Monday, April 21, 2014
Thursday, April 17, 2014
Ridwan Kamil Curhat Soal Kemacetan Akhir Pekan Pada Jokowi
"Ini kalau sudah akhir pekan, saya pasti sudah pusing lagi," kata Ridwan Kamil sambil duduk santai di tangga depan kantornya, Kamis (16/4/2014).
Pria yang kerap disapa Kang Emil ini mengeluhkan warga Jakarta yang datang berlibur ke Bandung, namun menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini menurutnya membuat Bandung semakin macet dan semrawut.
"Kami minta agar sebisa mungkin warga Jakarta kalau mau ke Bandung naik kereta saja," sambungnya.
Mendengar keluhan ini, Jokowi hanya tersenyum. Ia pun mengangguk pada Emil yang duduk tepat di sampingnya.
"Kalau mau datang ke Bandung, naik kereta saja. Nanti dari stasiun kereta kami jemput naik bus Bandros (Bandung Tour on the Bus)," sambung politisi Gerindra itu.
Sudah menjadi kebiasaan, setiap akhir minggu kota Bandung menjadi lebih padat daripada hari biasa. Salah satu penyebabnya karena jumlah turis domistik dari Jakarta yang berlibur ke Bandung.
Tuesday, April 15, 2014
Eka Sari Lorena: Melalui IPO, Kami Ingin "Open Management"
Jakarta - PT Eka Sari Lorena Transport resmi memulai proses penawaran saham perdana(Initial public offering/IPO). Perseroan menawarkan saham di dikisaran Rp 825-Rp 1.025 per saham.
Menariknya aksi IPO ini adalah, harapan sebuah perusahaan keluarga untuk semakin profesional di tengah pasar yang kompetitif.
"Perusahan ini ingin berkembang, mau lebihopen management, jadi tidak seperti warteg," kata Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Transport, Eka Sari Lorena Soerbakti usai due diligence & public expose, di Jakarta, Kamis (20/3).
Eka Sari optimistis, bisnis transportasi darat antar kota antar provinsi (AKAP) yang keluarganya kelola bakal kian propektif di masa mendatang. Bukan hanya soal permodalan, aksi go public ini juga diharapkan membuat nama Lorena makin berkibar.
Setelah IPO, perseroan siap terbuka dengan berbagai kemungkinan. "Tentunya kami harap ada perubahan," kata perempuan yang masuk dalam daftar Inspring Woman 2014 versi Majalah Forbes Indonesia ini dengan
cerdas.
Perlu diketahui, Lorena melepas 150 juta lembar saham atau 42,86 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Ini berarti, manajemen bakal menggalang dana segar sekitar Rp 123,75 miliar-Rp 153,75 miliar.
Sebesar 81 persen dari perolehan dana IPO akan digunakan untuk pengembangan bus AKAP, angkutan perbatasan terintegrasi busway (APTB), bus kota terintegrasi busway (BKTB), serta rekondisi bus lama.
Kemudian, 16 persen atau senilai Rp 19,8 miliar hingga Rp 24,6 miliar akan dipakai untuk fasilitas atau infrastruktur depo dan workshop bus TransJakarta di Ceger, Jakarta Timur. Sedangkan, 3 persen atau antara Rp 3,7 miliar sampai Rp 4,6 miliar akan ditempatkan sebagai modal kerja.
Thursday, April 10, 2014
Salat Bus Malam Terobos Bursa
Saat Bus Malam Terobos Bursa
Mestinya bus yang ia naiki, PO Lorena, sudah membawanya menyeberang feri. Tapi salah satu roda bus itu bermasalah, sehingga mesti berhenti beberapa jam di depo bus di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, untuk perbaikan. Kegelisahan pemilik kebun karet itu berakhir setelah bus itu segera meninggalkan puluhan bus di depo tersebut dan bergerak menuju Pekanbaru.
Bus antarprovinsi yang ia naiki adalah andalan bisnis PT Eka Sari Lorena Transport. Perusahaan ini tinggal selangkah menjadi operator bus malam atau bus jarak jauh pertama yang melepas saham di bursa. Langkah ini dilakukan meski bus jarak jauh di Indonesia sangat terpukul oleh hadirnya maskapai penerbangan murah. Maskapai ini membuat tarif pesawat tidak terlalu beda jauh dengan bus tapi memiliki waktu tempuh sangat pendek.
Meski begitu, Lorena optimistis. "(Kami) optimistis pasar saham akan merespons saham kami," kata Andy Porman Tambunan, Sekretaris Perusahaan Lorena. Ia yakin mereka tetap bisa mendapatkan hasil bagus dari penjualan saham mereka meski mereka perusahaan transportasi darat. "Kami tidak mau disamakan dengan mereka," katanya, dalam majalah detik edisi 123, merujuk pada perusahaan bus lain yang sudah melantai di bursa.
***
Tulisan selengkapnya bisa dibaca GRATIS di edisi terbaru Majalah Detik (edisi 123, 7 April 2014). Edisi ini mengupas tuntas “Awas DKI-2”. Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, seperti rubrik Nasional “Ada Apa dengan Pengawalan Jokowi”, Internasional Malaysia Airlines “Mengendus Jejak MH-370 di Balik Manggis”, Bisnis “Booming Digital Sudah Lewat”, Gaya Hidup “Pria Tanpa Sperma”, rubrik Seni Hiburan dan review Film “Captain America”, serta masih banyak artikel menarik lainnya.
Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi pdf bisa di-download diwww.majalahdetik.com. Gratis, selamat menikmati!!
Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV
Wednesday, April 9, 2014
Preparing to be public
Tuesday, April 8, 2014
ORGANDA chair woman, the most inspiring woman
Five Reasons Why I Love Public Transportation
by Xin Lu on 29 February 2008
1. You see different people everyday - Maybe I am just weird, but I find watching and listening to people on the bus to be rather interesting. Sometimes I even talked to the bus driver and other random people. I guess the travel experience is just not as lonely as driving because there are other people with you. Once in a while I would see a neighbor or friend, and it was always fun to chat in person.
2. Public transit helps the environment - This is true for areas with high population density. If everyone in the Bay Area that rides the train or bus everyday drove instead then this place will probably have unbreathable air and the traffic would be even more horrendous than it already is now. When you ride the bus or train you are sharing resources with your community, and that cuts down on pollution.
3. You can use your travel time for leisure - On a bus or train you can read a book, play a game, or even chat with your friends on the computer if internet is available. When you drive you have to concentrate on driving. I read many books when I was a bus rider, and also got really familiar with the main routes of the cities around the Bay just by watching the bus routes. It is also pretty relaxing to just take a little nap.
4. Public transit makes you exercise more - I firmly believe that I gained quite a bit of weight over the last couple years because I drive everyday. In the days when I rode the bus I walked more than a mile each day to and from the bus stop or train station. Unless the bus stop is right in front of your house, you generally have to walk a little bit, and that bit of exercise could mean 10 to 15 pounds over the years.
5. Car ownership is generally more expensive - The amount of money needed to purchase a car can generally finance public transit fees for years. Many workplaces also give incentives for public transportation such as discounted passes or reimbursements. Many large companies here in the South Bay also have free bus and train passes under their EcoPass program. The savings are quite significant over months and years.
Of course, there are many inconveniences associated with public transportation. For example, a lot of busses are often late, and go on roundabout routes. There are also crazy bus drivers that do not stop when requested, and also scary passengers that you want to get away from. Sometimes a bus could be so crowded that you can barely breathe. However, most of the times my experiences have been pleasant. I still use public transit from time to time to go to San Francisco because parking is nearly impossible in that city. I also take the BART train to the airport because it costs about 1/10 the amount of hiring a taxi. So even if you cannot part with your car, taking public transit can save you money if you take it occasionally. What about you? Are you a fan or hater of public transit? I was such a bus aficionado I did not learn to drive until I was 20. I knew several bus routes by heart and traveled all around the San Francisco Bay via busses or the BART (Bay Area Rapid Transit). Right now I live in San Mateo where the public transit is not as prevalent, and I really miss the days when I got everywhere with a bus pass. Since I am feeling nostalgic today I am going to write down why I love public transportation, and I hope I can live in a place with a lot of public transit again.
1. You see different people everyday - Maybe I am just weird, but I find watching and listening to people on the bus to be rather interesting. Sometimes I even talked to the bus driver and other random people. I guess the travel experience is just not as lonely as driving because there are other people with you. Once in a while I would see a neighbor or friend, and it was always fun to chat in person.
2. Public transit helps the environment - This is true for areas with high population density. If everyone in the Bay Area that rides the train or bus everyday drove instead then this place will probably have unbreathable air and the traffic would be even more horrendous than it already is now. When you ride the bus or train you are sharing resources with your community, and that cuts down on pollution.
3. You can use your travel time for leisure - On a bus or train you can read a book, play a game, or even chat with your friends on the computer if internet is available. When you drive you have to concentrate on driving. I read many books when I was a bus rider, and also got really familiar with the main routes of the cities around the Bay just by watching the bus routes. It is also pretty relaxing to just take a little nap.
4. Public transit makes you exercise more - I firmly believe that I gained quite a bit of weight over the last couple years because I drive everyday. In the days when I rode the bus I walked more than a mile each day to and from the bus stop or train station. Unless the bus stop is right in front of your house, you generally have to walk a little bit, and that bit of exercise could mean 10 to 15 pounds over the years.
5. Car ownership is generally more expensive - The amount of money needed to purchase a car can generally finance public transit fees for years. Many workplaces also give incentives for public transportation such as discounted passes or reimbursements. Many large companies here in the South Bay also have free bus and train passes under their EcoPass program. The savings are quite significant over months and years.
Of course, there are many inconveniences associated with public transportation. For example, a lot of busses are often late, and go on roundabout routes. There are also crazy bus drivers that do not stop when requested, and also scary passengers that you want to get away from. Sometimes a bus could be so crowded that you can barely breathe. However, most of the times my experiences have been pleasant. I still use public transit from time to time to go to San Francisco because parking is nearly impossible in that city. I also take the BART train to the airport because it costs about 1/10 the amount of hiring a taxi. So even if you cannot part with your car, taking public transit can save you money if you take it occasionally. What about you? Are you a fan or hater of public transit?
Thursday, February 20, 2014
Jokowi: Mau Murah Naik Metromini, Mau Pakai AC Naik BKTB
Liputan6.com, Jakarta : Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) jurusan Pantai Indah Kapuk-Monumen Nasional (Monas) mulai beroperasi. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meresmikan beroperasinya 18 unit BKTB di kawasan Waterboom Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.
"BKTB ini tidak mungkin bertabrakan dengan Metromini karena pangsa pasarnya beda," ujarnya di kawasan Waterboom PIK, Jakarta Utara, Rabu (5/2/2014).
Selain itu, lanjut Jokowi, fasilitas dan pelayanannya juga berbeda. Begitu juga dengan tarif BKTB yang 2 kali lipat dari tarif Metromini. BKTB lebih ditujukan untuk warga kelas menengah atas, sehingga penumpang sendiri yang akan memilih menggunakan angkutan yang mana.
"Metromini Rp 3.000, BKTB Rp 6.000. Kalau mau murah naik Metromini, mau pakai AC naik BKTB," kata Jokowi.
Titik-titik pemberhentian BKTB 01 PIK-Monas ini di antarannya Fresh Market Pluit-Ruko Cordova-RS. PIK-Taman Suaka Margasatwa Angke-Jembatan Muara Angke-Green Bay-Pantai Mutiara-SMKN 54-Landmark-Pakin-Gedong Panjang-Museum Fatahillah-Kota-Harmoni-Monas-Balaikota-Gambir-Tugu Tani-Telkom.
Tarif tiket yang diterapkan untuk BKTB 01 adalah sebesar Rp 6.000 dan beroperasi selama 17 jam, dari pukul 05.00 WIB hingga 22.00 WIB. (Ado/Ism)
Monday, February 17, 2014
Lonjakan Penumpang Kereta, Polisi Yogya Siaga
”Pihak kereta api dan terminal meminta kami menyiagakan personel karena mulai ada lonjakan penumpang signifikanakibat bencana abu Kelud ini,” kata Kepala Kepolisian Kota Besar Yogyakarta Ajun Komisaris Besar Polisi Slamet Santoso saat ditemui Tempo, Sabtu, 15 Februari 2014.
Slamet menambahkan, untuk Stasiun Tugu dan Lempuyangan, Yogyakarta, saat ini telah disiagakan masing-masing 30 orang di area stasiun. Sedangkan di Terminal Giwangan diturunkan 20 orang.
Dari laporan PT Kereta Api Indonesia kepada kepolisian per Jumat, 14 Februari 2014, lonjakan penumpang kereta setelah bencana abu Kelud ini naik mendekati 50 persen. “Ada 8.000 penumpang kereta dari rata-rata 5.000 penumpang tiap akhir pekan. Ini yang kami antisipasi, sisi keamanannya," kata dia.
Adapun mulai hari ini Terminal Induk Giwangan Yogyakarta terpantau mulai berangsur normal. “Sudah ada beberapa armada yang melayani pemberangkatan dari Yogya, tapi belum full semua,” kata petugas Terminal Giwangan, Kardiyono. Sejumlah armada yang melayani penumpang seperti bus-bus jurusan Yogya-Jawa Tengah. “Mungkin terminal juga masih dibersihkan dari abu,” kata Kardiyono.
Sedangkan Koordinator Paguyuban Bus Perkotaan Yogyakarta Benny Susanto menuturkan, mulai Sabtu ini, sejumlah armada sudah mulai melayani penumpang. “Tapi hanya 40 persen yang turun dari total 300 armada. Sebab, belum semua jalan bersih dan tak banyak penumpang juga seperti hari normal, hemat solar juga,” kata dia.
Sejumlah bus dalam kota yang melayani penumpang itu kebanyakan menghindari seputaran Malioboro. Meski patokan yang digunakan tetap jalur yang mengarah ke Malioboro, seperti jalur 4 A, 4 B, dan jalur 15. “Malioboro masih ditutup untuk pembersihan, jadi tidak kami lewati,” kata dia.
Tuesday, February 4, 2014
How Are Agencies Making the Transportation System More Resilient?
Two invited speakers at Volpe, The National Transportation Systems Center, provided valuable information for transportation professionals. Volpe's speaker series, Transportation System Resilience, Extreme Weather, and Climate Change brings together distinguished experts to discuss challenges, opportunities, and fresh approaches related to these pressing issues.
Dr. Klaus H. Jacob
Dr. Klaus H. Jacob, one of TIME Magazine’s People Who Mattered in 2012, spoke about his efforts to model the effects of a hypothetical coastal storm with a 100-year storm surge on New York City.Hurricane Sandy, which struck the northeast in October 2012, was very similar to the storm Dr. Jacob modeled and caused nearly the same effects that he had predicted. As a result, New York public officials, aware of Dr. Jacob’s research, proactively shut down the subway system and erected barriers at some locations to mitigate some of the worst effects of flooding.
Dr. Jacob, a geophysicist and special research scientist at Columbia University, discussed his approach to modeling storm surge and transportation impacts, displaying many of the flood projection maps that were widely available in the popular media.
Key lessons learned from Dr. Jacob’s work are that it is possible to anticipate the effects of extreme weather events with a high level of fidelity, and through preparation, it is possible to mitigate some of the effects.
Dr. Jacob noted that officials within different transportation modes need to take into account sea level rise and climate change when developing strategic plans. His research indicates that sea level rise will accelerate by about six feet by the end of the century.
He argued that transportation systems need to be designed and retrofitted to be adaptively resilient. Until systems become adaptively resilient, robust operational emergency plans and temporary protection measures must be readied for use on very short notice.
“We cannot afford to do nothing,” Dr. Jacob said. He believes that the incurred economic losses resulting from future storms similar to Hurricane Sandy will be four to ten times greater than the costs of implementing transportation resiliency measures.
Tuesday, January 28, 2014
Multimoda Transportasi Menunggu Pemimpin Peduli
Multimoda Transportasi Menunggu Pemimpin Peduli
INFOBISNIS-Untuk menyelesaikan masalah kemacetan di kota besar seperti Jakarta sekaligus meningkatkan daya saing logistik Indonesia, harus dengan membangun sistem multimoda transportasi. Kalau Indonesia masih terus mempertahankan singlemoda transportasi akan semakin tertinggal.
"Jakarta sekarang harus mengembangkan sistem angkutan multimoda. Apa yang dilakukan Jokowi sekarang bagus, tapi harus didukung semua pihak, terutama pimpinan diatasnya," ujar Ketua DPP Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Ekasari Lorena saat dihubungi di Jakarta, Kamis (23/1)m
Oleh karena itu, Eka minta masyarakat memilih pemimpin yang peduli terhadap angkutan umum dan dapat mengatasai persoalan kemacetan. "Pilih pemimpin yang peduli dan memihak pada transportasi umum yang baik. Bukan hanya sarana angkutannya seperti kendaraan, terminal, pelabuhan, stasiun dan lainnya. Tapi, kebijakan yang diambil juga berpihak sekaligus memberi contoh ke masyarakat," kata Eka.
Sebelumnya, Menhub EE Mangindaan mengatakan, Pemerintah bersama Pemda sudah mulai merintis pembangunan sistem multimoda transportasi. Pemprov DKI Jakarta sudah membangun MRI, KA Bandara Soetta juga sudah dimulai pembangunan fisiknya.
"Proyek-proyek serupa juga akan dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Dalam era otonomi daerah sekarang, harus ada sinergi karena ada peran dan tugas masing-masing. Dengan begitu, pembangunan multimoda transportasi itu bisa segera terwujud," kata Mangindaan.
Eka Sari juga mengatakan saat ini memang sudah tampak upaya pembangunan angkutan umum. "Tetapi pembangunan angkutan umum itu, karena orang sudah sangat menderita dengan kondisi transportasi," kata dia.
Salah satu kebijakan yang dia kritik adalah soal mobil murah atau low cost green car (LCGC) yang justru menimbulkan masalah baru seperti kemacetan.
Lebih parah lagi, katanya, untuk mendukung kebijakan itu pemerintah mengeluarkan tentang insentif pajak penjualan atas barang mewah bagi produksi mobil ramah lingkungan.
"Jangan lagi memilih pemimpin yang memberikan janji-janji surga, tetapi pemimpin yang terlihat nyata memberikan kepedulian terhadap angkutan umum," katanya.
Menurutnya selama ini belum terwujud komitmen bersama dalam membenahi kualitas angkutan umum yang dituangkan lewat suatu rencana aksi yang terprogram dan diimplementasikan secara terkoordinasi.*hel
Organda Rugi, Pemerintah Harus Segera Atasi Banjir
Organda Rugi, Pemerintah Harus Segera Atasi Banjir
INFOBISNIS--Pemerintah harus segera mengambil tindakan konkrit untuk mengurangi dampak kerugian akibat banjir di berbagai daerah di Indonesia.
"Jika tidak kerugian dunia usaha termasuk anggota Organda semakin besar dan pada akhirnya masyarakat ikut menanggung derita," ujar Ketua Umum DPP Organda Ekasari Lorena Surbakti di Jakarta, Rabu (22/1).
Menurutnya, kerugian pengusaha anggota Organda mencapai Rp15 miliar per hari, khususnya di jalur pantura Jawa Barat dan Jawa Tengah.
"Dengan asumsi setiap hari rata-rata ada 6.000 kendaraan melintas di pantura, baik angkutan barang atau penumpang. Setiap hari, biaya operasional mereka mencapai Rp2,5 juta, makanya akumulasi kerugian kita mencapai Rp15 miliar itu," kata Eka.
Jumlah itu, lanjut dia, akan terus bertambah jika banjir terus melanda dan transportasi darat macet atau terputus seperti sekarang. Kalau sudah begitu, dampaknya semakin buruk menimpa ekonomi nasional.
"Berangkat dari kasus banjir tahun ini dan tahun sebelumnya, pemerintah harus segera mengambil tindakan. Apa solusi yang terbaik dan perlu segera dilakukan," pinta Eka.
Kalau mau jujur, menurut dia, banjir merupakan kasus rutin setiap tahun. Sayang, antisipasi dan solusi pemerintah belum jelas terasa dampaknya.
"Kita minta pemerintah ambil langkah cepat, terpadu dan berkesinambungan untuk atasi banjir serta kembali menormalkan jalur distribusi barang dan jasa di masyarakat," tukas Eka.
Kasus kemacetan di panturan Jabar misalanya, yang terputus hanya sekitar 20 km. "Tapi dampaknya sangat berat, karena 70% arus barang dan penumpang di Indonesia melalui jalur itu. Semakin lama banjir dan kemacetan tidak teratasi, maka kerugian akan semakin besar," papar Eka.
Seperti diketahui, distribusi barang khususnya beras dari daerah produksi di Jabar dan Jateng ke Pasar Induk Cipinang pasti terganggu. Kasus serupa juga mempengaruhi pasokan sapi potong dari Jabar dan Jateng ke Jakarta.
"Oleh karena itu, perlu langkah bersama mengatasi dampak banjir terlebih di jalur pantura. Dampaknya bisa merugikan secara ekonomi dan mengacaukan pasokan kebutuhan pokok di Jawa khususnya Jakarta," terang Eka.
Diakuinya, memang tak bisa mengatasi masalah banjir sendirian. Wakil Ketua DPD Organda DKI Jakarta Wawan Tarigan menambahkan, Pemerintah pusat dan daerah serta Organda harus turun bersama-sama.
"Dampak penyebab banjir dikurangi, sumbatan jalur distribusi di hilangkan. Dan yang mendesak dilakukan, amankan jalur distribusi dari semua bentuk pungli yang memberatkan dunia usaha itu," kata dia.
Wawan menambahkan, kerugian dari biaya operasi Rp2,5 juta sehari per kendaraan adalah skala minimal. "Realitanya bisa lebih besar dari angka itu. Jika macet terus berlanjut, konsumsi BBM tinggi dan biaya operasi juga bertambah. Sementara, penerimaan peusahaan justru berkurang bahkan hilang," aku Wawan.
Intinya baik Eka atau Wawan sepakat, perlu segera bersama dan perintah menjadi leadernya. "Jangan biarkan dunia usaha (Organda) menanggu rugi sendiri. Butuh kebersamaan untuk menyelesaikan masalah banjir dan dampak ikutannya," tegas Eka.*hel

