Terjangan air bah di sepanjang pantai utara Jawa Barat, telah
menoreh kerugian bagi pengusaha transportasi baik pengusaha angkutan bus maupun
pengusaha angkutan barang. Pemerintah harus berbuat sesuatu sebab bila tidak
maka kerugian lebih besar justru dialami masyarakat sebagai konsumen akhir.
"Tiap hari setidaknya melintas. 6000 unit angkutan komersial
di pantura Jawa. Akibat banjir di Pantura terjadi penambahan biaya operasional
dengan perhitungan tambahan biaya Rp. 2,5 juta / kendaraan per hari. Atau total
ada kerugian Rp. 15 miliar / hari. Ini baru hitungan sederhana penambahan hari
operasional dengan catatan tidak ada masalah tambahan lainnya seperti mogok
akibat banjir, atau kecelakaan," kata Ketua Umum DPP Organda Eka Sari
Lorena, Rabu (22/1) di Jakarta.
Menurut Eka, bila banjir di pantura seperti tahun lalu, maka
total kerugian selama dua minggu dapat menyebabkan kerugian sektor transportasi
darat lebih dari Rp 50 miliar / harinya. "Dalam hal ini yang paling
dirugikan adalah masyarakat yang akan
kesulitan menerima kebutuhan barang karena transportasi terhambat sehingga
barang menjadi mahal," kata Eka.
Eka mengingatkan, tingginya biaya logistik akibat bencana banjir
pasti menyebabkan inflasi tinggi. "Rakyat pun menderita karena sulitnya
melakukan kegiatan mobilisasi yang amat dibutuhkan dalam menopang perekonomian
masyarakat," ujar dia.
Revitalisasi infrastruktur transportasi, kata Eka, dengan
demikian penting untuk segera direalisasikan pada tahun 2014 ini. Revitalisasi
juga harus mempertimbangkan perubahan iklim yang terjadi.
Akibat perubahan iklim, antara lain telah menyebabkan Indonesia
makin sering mengalami banjir. Biasanya, banjir besar terjadi lima tahun sekali
tetapi kini menjadi setahun sekali.
Laporan dari Asian Development Bank (ADB), kata Eka, telah
mengingatkan kita bahwa wilayah Pasifik akan menghadapi kerugian ekonomi yang
serius akibat perubahan iklim.
"Laporan itu ada benarnya. Tahun 2014, Pantura mengalami
banjir sepanjang 20 kilometer, padahal 70 persen pergerakan barang dan orang di
Indonesia terpusat di pantura sebagai urat nadi transportasi kita," ujar
dia.
Ruas Pamanukan yang terendam banjir misalnya, merupakan arus lalu
lintas utama perdagangan beras dari lumbung-lumbung padi di kabupaten-kabupaten
di pantura Jawa menuju Pasar Induk Cipinang. Sapi potong juga dibawa dari
sentra-sentra peternakan di Jawa Tengah menuju Jakarta melalui jalur pantura.
Eka berpendapat, kerugian akibat banjir dapat diminimalkan dan
terbantu apabila disiapkan strategi transportasi tidak normal (irregularities)
baik di Jakarta ataupun di kota-kota lainnya. Hal sederhana misalnya, ada
informasi dini (early warning system) sehingga truk atau bus tahu kondisi
banjir terkini sehingga tak terjebak macet selama puluhan kilometer selama
berjam-jam.
"Masalahnya, negara kita masih mengadopsi Sistem
Pemadam. Kebakaran yaitu jika ada masalah baru sibuk mencari solusinya. Belum
ada rencana preventif untuk melindungi mobilisasi barang dan orang yang sangat
krusial," ujar dia.
Eka berpendapat, idealnya, pola transportasi disusun berdasarkan
analisa berkala. Efisiensi dan kesuksesan dari pola transportasi juga harus
senantiasa diukur. Tentu para pemangku kepentingan di Jakarta dan wilayah
sekitarnya sebagai area pengalihan, harus ikut serta menyusun pola tersebut.
Yang terpenting, penyusunan pola dan strategi trasnporatsi harus transparan.
Bukan hanya sekedar masyarakat harus mendukung tapi juga ada pembelajaran bagi
masyarakat.
Pola dan strategi transportasi atau mobilitas, kata Eka, idealnya
dimulai di rumah, depo kendaraan, atau terminal. Jadi saat ada kondisi darurat,
akan mudah mengkondisikannya. Contohnya, kendaraan dari kawasan tertentu dapat
menginformasikan agar jangan membanjiri Pusat Kota yang dalam kondisi darurat
seperti dalam keadaan banjir atau ada unjuk rasa.
DPP
ORGANDA
Rabu, 22 Januari 2014