Tuesday, April 30, 2013

  

   Press Conference Ketua Umum
 DPP ORGANDA
Eka Sari Lorena Surbakti MBA, 
30 April 2013


Ketua Umum DPP ORGANDA beserta jajarannya menyikapi rencana kenaikan BBM


Media Elektronic Dalam Acara Press Conference  ORGANDA , 30 April 2013

BBM Naik, Organda Ancam Mogok Nasional

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menyusul rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi menjadi Rp 6.000 per liter, Organisasi Angkutan Darat (Organda) menyatakan siap menaikkan tarif transportasi darat hingga 35 persen. Langkah ini diambil Organda untuk menghindarkan terjadinya pemberhentian massal operasional kendaraan publik.

Eka Sari Lorena, Ketua Umum Organda, mengatakan langkah menaikkan tarif memang merupakan kebijakan yang sangat berat untuk diambil namun pihaknya tidak memiliki pilihan lain.

"Jelas, kenaikan BBM bersubsidi memukul para operator dan pengusaha transportasi darat. Kami sudah menahan biaya operasional yang membengkak akibat kenaikan harga sparepart dan tarif tidak pernah naik sejak 2009," ujar Eka, Selasa (30/4/2013).

Eka menegaskan, Organda menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM subsidi maupun membatasi kuota. Pemberian subsidi BBM untuk angkutan umum sesuai dengan amanat UUD 1945 dan asas keadilan bagi masyarakat.

Pihaknya memperkirakan, kenaikan tarif angkutan umum akan mengurangi jumlah penumpang karena tidak dapat bersaing dengan angkutan pribadi. Namun Organda mengaku tidak memiliki pilihan lain.

Menurut hitungan Organda, kenaikan harga BBM subsidi menjadi Rp 6.000 membuat penambahan biaya operasional kendaraan umum membengkak 30 persen-35 persen. "Jadi opsinya kami harus naikkan tarif atau kami tidak akan bisa beroperasi lagi karena rugi. Bisa terjadi mogok nasional," tambah Eka.

Beberapa pengusaha mungkin masih bisa tetap beroperasi, namun akan mengurangi kualitas pelayanan dan bisa berdampak pada keselamatan.

Namun kapan pihaknya akan akan menaikkan tarif, masih melihat kondisi di lapangan. "Kami lebih setuju opsi dua harga, jadi kita lihat nanti bagaimana keputusan pemerintah. Yang jelas, untuk layanan kelas ekonomi belum akan naik karena maish harus kami kaji lagi dan juga harus izin pemerintah," ujar Eka.

Selain berdampak langsung pada beban operasional, Eka bilang, kenaikan harga BBM subsidi juga akan menimbulkan inflasi. Hal ini meningkatkan tingkat suku bunga BI (BI Rate) dan berdampak pada naiknya harga kendaraan baru dan biaya peremajaan armada hingga 30 persen.

Eka memberikan gambaran, sejak terjadi kelangkaan solar dua bulan belakangan, sekitar 25 persen armada angkutan umum di seluruh Indonesia berhenti operasi.

Monday, April 29, 2013



 Protes Publik Angkutan Jakarta

Bus? Bisa Berabe, Boss….

                Hey, sepeda motor itu tidak aman. Mulai dari selebritis, pekerja kantoran, sampai ustad, sampai meninggal dunia akibat kecelakaan sepeda motor. “Jangan naik motor lah, mengapa kalian tidak naik bus saja,” ujar seorang sahabat saya, pengusaha café di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.
                “Bus? Bisa berabe, boss…,” ujar para karyawati café tersebut, sambil tertawa-tawa.
                Hari-hari biasa, sebenarnya beberapa café di Kemang baru tutup ketika jam menunjukkan pukul 22.00. Untuk waktu di wilayah Indonesia Kemang, jujur saja malam belum terlalu tua. Belum larut. Namun masihkah bus atau angkutan umum perkotaan melintas di Kemang pada jam itu? Hahaha, tentu tidak.
                Tidak heran bila para karyawati itu menolak mentah-mentah saran baik sahabat saya itu. Banyak orang baik seperti sahabat saya menyadari angkutan umum lebih aman dari sepeda motor. Namun mereka tidak menyadari bahwa jaringan atau trayek angkutan umum tidak lagi menggurita. Jam operasional angkutan umum juga sangat terbatas.
                Contoh kasus di Kemang ini, merupakan gambaran mengapa angkutan umum perkotaan di Jakarta makin ditinggalkan. Sederhana saja, angkutan umum perkotaan itu tidak mampu menjawab ekspektasi penggunanya.
                Ini belum kita bicara soal keamanan di dalam angkutan umum perkotaan saat larut malam. Tanggungjawab siapa soal keamanan? Menurut anda? Saya hanya ingin mengutip Pasal 5 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bahwa pemerintah bertanggung jawab penuh atas penyelenggaran angkutan umum.
                Kembali ke Kemang, keterbatasan angkutan umum perkotaan di kawasan itu sungguh malapetaka bagi bisnis di Kemang itu sendiri. Ketika kemacetan tidak lagi mampu diatasi, bagaimana bisnis dapat bertumbuh? Slot parkir mobil di Kemang, jujur saja makin berkurang. Lantas, bagaimana konsumen dapat hadir?
                Namun sebaliknya, layanan angkutan umum yang melintasi Kemang juga amat buruk. Sungguh, saya terheran-heran, mengapa misalnya tidak ada desain feeder Trans Jakarta dari Blok M menuju Kemang?
Padahal dapat saja, feeder Trans Jakarta itu melintas ulang alik antara Blok M (koridor Blok M-Kota) dengan halte Pejaten Village (koridor Ragunan-Setiabudi). Bila feeder melintas tiap 15 menit, tidakkah siapa pun dapat ke Kemang naik angkutan umum? Sungguh saya tak habis mengerti. 
                 Kemang hanyalah satu contoh. Kini, akibat melemahnya penetrasi angkutan umum perkotaan, masyarakat di Jakarta makin mantap menggunakan kendaraan pribadi. Saya menegaskan, hal itu tidak boleh terjadi. Dengan kecenderungan kota yang makin “membengkak”, jelas kota akan menjadi neraka bagi kita seandainya tiap penduduk menaiki kendaraan pribadi mereka masing-masing.
                Sebab jelas, takkan ada cukup ruang jalan di perkotaan untuk mengakomidir seluruh kendaraan pribadi yang dimiliki oleh penduduk kota. Mau dibangun jalan non tol bertingkat lima pun, menurut anda apakah masih mampu melayani keinginan warga? Lagipula, kota betonkah yang anda ingin tinggali?
                Terlebih kini, begitu mudah pembelian kendaraan pribadi. Kredit kendaraan bermotor juga begitu murah. Lucunya, terkadang lebih mudah membeli sepeda motor dengan fasilitas kredit misalnya daripada pembelian kontan. 
                Sebenarnya tidak masalah bila kendaraan pribadi terus dijual. Namun, demi kebaikan kita semua, cobalah untuk diselaraskan dengan penggunaan lahan. Aturlah penggunaan kendaraan pribadi sesuai dengan lahan yang tersedia. 
                Sebab faktanya, justru insentif bagi angkutan umum perkotaan nyaris tidak ada. Diperburuk dengan harga bahan bakar bermotor yang sangat murah sehingga sulit bersaing dengan sepeda motor. Dengan harga premium bersubsidi Rp 4.500 per liter, coba anda bayangkan bagaimana menetapkan tarif angkutan umum perkotaan?
                Dengan harga premium “hanya” Rp 4.500, tanpa disadari juga menyebabkan sangat sedikit infrastruktur dibangun untuk warga Jakarta. Korelasinya, sangatlah jelas. Anda seharusnya paham bahwa dana subsidi merampas dana yang seharusnya dapat untuk membangun terminal hingga merevitalisasi angkutan umum.   
                Bila dana subsidi sebesar Rp 200-an triliun per tahun itu dihemat, Jakarta dapat membangun halte Trans Jakarta dengan AC—sehingga warga tertarik naik Trans Jakarta. Atau, menambah pendingin ruangan pada tiap mikrolet yang beroperasi. 
                Dengan kemacetan parah, saya harap akhirnya anda mampu merenungkan, lebih baik memperjuangkan mobilitas penduduk kota, atau mobilitas kendaraan saja. Anda harus renungkan hal itu, jangan sekedar menelan bulat-bulat kata-kata saya, supaya lebih banyak orang memikirkan masa depan angkutan umum perkotaan, demi masa depan kita semua.
Saya juga ingin lebih banyak pejuang-pejuang muda yang tampil untuk memikirkan masa depan angkutan umum di Jakarta. Tentu, kita semua tidak senang terjebak kemacetan selama berjam-jam di Jakarta bukan? Pikirkanlah betapa anda kehilangan waktu berhargamu.
                Namun bolehlah anda menelan kata-kata saya bahwa: tanpa keberpihakan terhadap angkutan umum perkotaan, juga angkutan umum barang, bermimpilah kita untuk menjadi negara terkuat nomor 7 pada tahun 2025.
                                 

Eka Sari Lorena
Ketua Umum Organda

Thursday, February 21, 2013

Lunch With CEO: EKA SARI LORENA



Ada Passion Kuat

Meskipun seorang perempuan, dia tak merasa segan untuk terjun ke lapangan dan menyapa para pekerjanya. Orang bisa memandang sebelah mata karena penampilannya yang stylist dan terlihat gaul. Namun, dia memiliki visi dan obsesi besar di bidang transportasi.
Adalah Eka Sari Lorena Soerbakti, Chief Executif Officer Lorena Group, ini mampu membawa perusahaan keluarga menjadi perusahaan modern. Bagaimana kiatnya? Bisnis In do nesia berkesempatan mewarancarainya. Berikut petikannya:


Bagaimana pasang surut perusahaan yang Anda pimpin?
Kami memulai bisnis transportasi pada 9 September 1970. Perusahaan ini didirikan oleh ayah saya. Ayah saya dulu kan tentara. Sering ngurusi berbekalan, transportasi, membangun jembatan. Zeni tempur lah bagiannya. Mungkin karena ayah saya sering naik bus. Kira-kira waktu itu kepikiran, kenapa tidak buat perusahaan transportasi’. Akhirnya terjun ke bisnis transportasi. Awalnya kami hanya memiliki dua bus untuk melayani antarkota antarprovinsi. Itu pun bus dibeli dengan harga Rp12 juta. Bus pun masih diparkir di halaman orang. Belum memiliki lahan parkir sendiri. Semula kami hanya melayani trayek Bogor-Jakarta, kami memilih depo di Bogor. Setahun nambah menjadi lima bus. Respons masyarakat bagus. Per usa ha an kami buat beda. Kami buat pakai seragam, tertib, dan kami latih. Jadi, jelas berbeda dengan sopir bus biasanya. Itu yang membuat kami lebih mudah memenangkan market.

Lompatan terbesar terjadi pada tahun berapa?
Pada saat kami main jarak jauh. Itu pada tahun 1980-an. Saat itu belum banyak perusahaan bus yang memiliki sistem bagus. Kami memiliki jadwal yang teratur, split management, dan utilisasi kendaraan. Kami main jarak jauh pertama dengan tujuan Surabaya, sehingga kami sempat dikira bus asal Surabaya. Waktu itu beli perusahaan bus kompetitor, namanya Raseko. Kemudian diganti menjadi Karina. Kemudian pada krisis moneter perusahaan kami malah bagus. Karena kami sangat prudent [hati-hati]. Sangat prudent dalam mengkalkulasi. Kantor – kantor penting itu kami tidak menyewa, beli sendiri. Jadi, apabila dalam kondisi bahaya atau kondisi krisis, kami punya sendiri, sehingga tidak menjadi beban. Kami tidak banyak utang. Lebih mengandalkan dana
internal.
Perusahaan apa yang berkontribusi besar terhadap pendapatan?
Sekarang ini semakin merata ya, karena bisnis kami ini semua saling menunjang. Bukan saling jalan satu ke kiri dan satu ke kanan. Selain itu, kami efisien dalam semua hal, karena memiliki spare part yang sama, satu warehousing dan lainnya.

Bagaimana Anda bisa menjadi top pimpinan di Lorena?
Saya sempat kerja di luar negeri, di Western International. Saya berkantor di AS menjadi marketing executive. Kemudian saya kembali ke Indonesia. Saya kerja sama ayah. Disuruh ke mana-mana. Jadi, saya banyak belajar sama ayah. Saya kerja di Lorena tidak langsung memiliki jabatan tinggi. Awalnya saya juga disuruh menjadi marketing untuk buktikan ilmu yang saya dapat di AS. Itu pada 1992. Pada awalnya saya cuma digaji Rp1,2 juta. Jauh lebih kecil dari gaji saya waktu di AS yang mencapai ribuan dólar AS. Tapi, itu bagus karena saya punya empati lebih besar terhadap profesi di perusahaan.

Situasi tersulit apakah yang pernah Anda hadapi?
Waktu harga tiket pesawat murah. Harga tiket pesawat sangat murah, lebih murah dari tiket bus. Waktu tempuh kami jelas kalah. Karena mobilitas orang dari daerah ke daerah. Itu sangat berat bagi kami. Di situ kami melakukan rerouting [pengaturan ulang rute]. Kami buat rute yang tidak bersinggungan langsung dengan pesawat. Awalnya itu sangat memukul separuh pendapatan kami. Namun, karena perusahaan swasta, kami mu dah melakukan rerouting, sehingga pendapatan balik lagi. Itu selama setahun. Kami memiliki keunggulan di bandingkan dengan pesawat, kami bias mengangkut barang banyak. Itu yang menarik kembali penumpang.

Apa keputusan Anda yang paling monumental?
Harus punya perusahaan pengiriman atau logistik sendiri [mendirikan ESL Express]. Selama ini kan pengiriman barang oleh Lorena bus. Kadang diterima sopir, kemudian barang hilang. Eh, yang dikejar kita, sehingga banyak menimbulkan masalah. Jadi keputusan untuk membuat perusahaan pengiriman barang ini sangat memorable dan benar. Perusahaan ini didirikan 16 tahun lalu, bahkan kini akan menghasilkan grup sendiri.

Kenapa harus di pisah?
Don’t put in one basket. Semua perusahaan sudah mengerti transportasi. Ini kan mereka sudah tahu value. Kenapa tidak sinergi? Kalau dua bisa saling cari duit kan lebih gampang. Ini akan memperkuat grup. Gimana cara melihat, kalau masing- masing punya cara sendiri kenapa ti dak. Kalau satu grup ada kenapa – kenapa kan grup lain bisa menolong. Apalagi ESL Exspress ini franchise per tahun tambah sampai ratusan. Meski model ini kami kembangkan sejak 5 tahun lalu, sekarang sudah mencapai 500 franchise dan memiliki 787 kantor jaringan.

Apa rencana korporasi dalam 1-2 tahun mendatang?
Pertama, kami ingin masuk ke bisnis kargo pesawat dan penumpang.Tapi, untuk pesawat penumpang kondisi infrastruktur kurang memadai. Terlalu padat. Akan tetapi kalau ada yang collapse satu atau dua lagi maskapai boleh juga [terjun ke bisnis
pesawat penumpang].
Kedua, kami masih ingin memfokuskan pada angkutan darat. Lebih mengarah pada suplai chain, yakni menambah feeder. Karena saat ini travel time makin parah. Kami membutuhkan hub baru agar zona lebih ba nyak. Kami ingin buka lain untuk logistik dan ekspres. Kami juga ingin IPO [initial public offering] atau mencari strategic partner. Tapi, kami ingin perusahaan agar go public dulu agar tidak terkesan eksklusif karena perusahaan keluarga, sehingga memudahkan mencari pendanaan. Ini rencana Mei paling lambat. Kami sudah menunjuk underwriter.

Siapa di balik sukses karier Anda?
Keluarga saya. Meskipun sebenarnya keluarga saya liberal. Tidak mau mengarahkan ke mana. Namun, saya tahu bahwa saya mengetahui bisnis
transportasi. Karena saya menggeluti lama dan saya suka. Saya ada passion kuat pada usaha transportasi.

Sejak kapan suka transportasi?
Ini [bidang transportasi] seperti napas saya dari kecil. Saya jalan deket bus itu biasa, dengar klakson keras sudah biasa, karena sudah terbiasa dari kecil. Passion saya itu lebih kepada banyak membantu orang. Makanya saya suka transportasi. Orang minta konsultasi dan dibayar mahal kepada saya tidak tertarik. Tapi,kalau orang minta bantu mengenai konsultasi metro mini saya suka.
Apakah Anda menyiapkan calon pemimpin Lorena?
Saya tidak izinkan anak masuk Lorena. Biar mereka nanti buat perusahaan sendiri. Saya mendidik anak mandiri. Anak harus diberi kebebasan untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Apakah hobi Anda?
Satu jalan-jalan, kedua baca, ketiga nonton TV atau film yang berbau investigasi. Saya juga suka renang.

Tokoh idola Anda?

Banyak. Pertama bapak saya, Mother Theresa, dan saya ingin menjadi pengusaha seperti Warren Buffet.


wawancara Ketua Umum DPP Organda, Eka Sari Lorena dengan Koran Bisnis Indonesia. (20/02/2013)

Tuesday, February 12, 2013

Kepanikan Sergap Warga DKI


.
Kasus Annisa Azwar (20), mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang meloncat dari angkutan kota, menunjukkan mudahnya orang di Jakarta terserang rasa panik. Perasaan itu muncul akibat meluapnya berita tentang penculikan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan di angkot.

Friday, February 8, 2013

Training Operator Angkutan Perkotaan DKI Jakarta

Senin, 4 Februari lalu, Organda Indonesia bekerjasama dengan Total Quality Indonesia melakukan gebrakan dengan membuat traning dengan topik "Empowering Urban Transport with Heart" yang dikhususkan untuk operator angkutan perkotaan DKI di kantor DPP Organda. Mau tau bagaimana serunya ? Berikut foto-fotonya.

Peserta Traning: Empowering Urban Transport with Heart


Budiono Lie, Co-Founder and Trainer Total Quality Indonesia
Permainan Mengenal Potensi Bisnis
Keceriaan Peserta Trainig: Membawa Perubahahan, Jangan Memble Dong
Total Quality Indonesia

Peserta Training didampingi oleh Bapak Agung dari Total Quality Indonesia. Bekerja Dengan Hati
Keceriaan diantara Peserta Training

Peserta Training Menghitung berapa Kekayaan yang mereka punya dalam permaian yang dibuat oleh TQI

Sudah lihat bagaimana serunya training diatas ? Ayo datang dan ikuti sesi training kita yang akan datang. 

Salam Organda. 

Thursday, February 7, 2013

Organda: Jakarta Akan Lebih Cepat Macet Total


11 Januari 2013

Kompas, Jakarta
Ketua Umum Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena memperingatkan kemacetan total di Jakarta, akan lebih cepat tiba. Sebab, belum ada solusi komprehensif yang diambil oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ada dua hal yang akan mempercepat kemacetan total di Jakarta. Pertama, akan dibangunnya enam tol di Jakarta. Kedua, akan bermunculannya mobil murah. "Dua hal itu akan bersinergi memacetkan Jakarta," kata Eka, Jumat (11/1/2012).
Eka mengatakan, ketika Gubernur DKI Jakarta memberikan lampu hijau terhadap pembangunan enam tol dalam kota, apakah juga dipikirkan tentang kapasitas parkir? "Apakah juga dipikirkan soal pemborosan BBM? Apakah juga dipikirkan soal psikologi warga untuk membeli lebih banyak mobil? Saya pikir tidak," ujar Eka.
Menurut Eka, Pemprov DKI Jakarta baru berpikir sebatas proyek. "Baru proyek yang dipikirkan, belum mengerjakan pekerjaan rumah berupa revitalisasi trayek dan angkutan," ujar Eka. Dia menambahkan, saya pikir Gubernur salah bergaul dalam urusan transportasi.
Dihubungi di Semarang, ahli transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Djoko Setijowarno mengusulkan Gubernur DKI Jakarta untuk menggelar dialog terbuka untuk membahas proyek enam ruas tol dalam kota.
"Lakukan dialog seperti membahas MRT," ujar Djoko. Dia mengingatkan janji Jokowi pada masa kampanye untuk pro terhadap transportasi massal.   

Thursday, January 31, 2013

Tuesday, January 29, 2013

Note from Organda Central Board: January 2013





Low Cost Car Policy vs. Public Bus Incentive Policy

January is just a few days left. However, this first month of 2013 would never be easily forgotten by the people. The pouring rain that almost fell everyday has made major part of Jakarta and the regions around the city heavily flooded. Organda Central Board is deeply concerned over this natural and repeating disaster. We pray for the people who are facing difficulties and participate through our part to reduce the difficultness.