Thursday, July 24, 2014



Pemudik Motor Belum Terbendung

JAKARTA, KOMPAS — Jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor tahun ini diprediksi masih tinggi, menembus angka 2,3 juta unit. Beragam program yang menawarkan pengangkutan sepeda motor untuk mudik hanya mampu menekan sebagian kecil dari jumlah itu.
Minat warga untuk ikut dalam program pengangkutan motor gratis tersebut pun masih minim. Salah satunya terlihat dalam program pengangkutan sepeda motor pemudik gratis yang dilakukan Kementerian Perhubungan, di Jakarta, Rabu (23/7).

Dari kuota 2.400 unit sepeda motor yang disediakan, jumlah pendaftar hanya 2.272 unit. Dari jumlah itu, motor yang akhirnya jadi diberangkatkan dengan truk ke sembilan kota tujuan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta hanya mencapai 1.528 unit.
Menteri Perhubungan EE Mangindaan mengatakan, tahun depan, pihaknya akan lebih menggencarkan sosialisasi program tersebut kepada masyarakat. ”Sebenarnya saya menargetkan 3.000 unit sepeda motor bisa terangkut tahun ini. Hal itu untuk mengurangi kepadatan jalan dan risiko kecelakaan,” kata dia.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Hotma Simanjuntak menyatakan, pemudik motor yang bisa dialihkan dari jalan raya melalui program angkutan mudik gratis oleh pemerintah dan swasta tahun ini mencapai lebih kurang 30.000 unit. Jumlah itu hanya 1,3 persen dari total pemudik motor.

Sementara itu, pemudik sepeda motor mulai memadati jalur selatan Jawa Barat. Pantauan Kompas, pemudik sepeda motor konvoi memasuki kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, hingga Gentong, Kabupaten Tasikmalaya. Sembari berboncengan, mereka membawa banyak barang bawaan di ekor sepeda motor. Tidak sedikit yang membawa anak dan tas besar saat melintasi jalur penuh kelokan berbahaya.

Ahmad Suardi (36), pemudik asal Bandung menuju Yogyakarta, memilih mudik lebih awal karena tak ingin terjebak kemacetan. Pada arus mudik kali ini, ia pergi bersama anak sulungnya. Istri dan kedua anak perempuannya pergi menyusul esok hari menggunakan kereta api. ”Risikonya terlalu besar apabila semuanya pakai motor. Agar irit, sebagian pakai motor dan lainnya pakai kereta api,” kata dia.

Namun, dengan alasan tidak mendapatkan tiket kereta api, Tri Ramdhan (37), asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memilih membawa istri dan anaknya menggunakan sepeda motor. Meski sadar risiko kecelakaan menghadang, ia tak punya pilihan lain. ”Tadinya kami mau naik bus, tetapi sepertinya susah angkutan sampai ke rumah,” kata Tri saat beristirahat di Gentong. (ENG/CHE/DMU)

No comments:

Post a Comment