Wednesday, July 23, 2014



Angkutan Berat Rugi Besar :
Memutar karena jembatan Comal ambles, ongkos angkut naik hingga 75%


VIVAnews - Dampak kerusakan Jembatan Comal, Pemalang, Jawa Tengah, sudah mulai dirasakan para pengusaha angkutan, baik angkutan penumpang maupun barang. Setelah dialihkannya ke jalur selatan membuat para sopir harus merogoh kocek tebal untuk menambah biaya bahan bakar.
Sekretaris Eksekutif Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Tengah, Edi Sugiri, mengatakan, keluhan kerugian para pengusaha angkutan sudah disampaikan kepada pihak Organda. Utamanya kerugian riil yang berdampak pada truk yang membawa barang ke wilayah Semarang.

"Mereka harus menambah ongkos 75 persen lebih mahal dari situasi normal, karena harus memutar lewat jalur selatan," kata Edi di Semarang, Selasa 22 Juli 2014.

Akibat pengalihan jalur itu, kata dia, maka jarak waktu yang ditempuh semakin panjang. Jika dalam kondisi normal Jakarta menuju Semarang hanya 10 jam, kini menjadi 17 jam.

"Mereka rugi bahan bakar. Belum lagi sopir banyak yang mengeluhkan sempitnya jalur yang menyebabkan kemacetan panjang," ujar dia.

Kondisi serupa berlaku bagi angkutan penumpang, yakni angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Para pengusaha terpaksa menelan pil pahit karena tidak ada penambahan biaya tiket penumpang, karena tiket sudah dipesan menghadapi mudik Lebaran.

"Jaraknya semakin jauh, mereka rugi. Sedangkan penumpang tidak mau menambah biaya tiket, meski dengan alasan lebih jauh," katanya.

Ditaksir kerugian mencapai Rp500 juta per hari. Jika dalam sehari ada 500 bus AKAP baik jurusan Semarang menuju Cirebon, Bandung, maupun Jakarta menambah biaya BBM Rp1 juta. "Belum lagi faktor keselamatan di jalur lintas selatan akibat sopir belum paham betul medan yang dilalui," katanya.

Ia berharap Dinas Bina Marga bisa membangun jembatan penyeberangan sementara untuk orang di wilayah Comal. Hal itu untuk mengoper para penumpang dari arah barat yang menuju ke timur.

"Misalnya, penumpang dari Jakarta bisa diturunkan di Comal. Terus dioper oleh bus yang menunggu sisi timur jembatan ke arah tujuan, " kata dia.

Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengaku sependapat kondisi pengusaha angkutan bus paling terpukul akibat terkena dampak secara langsung atas kerusakan jembatan ini.

“Mereka (pengusaha AKAP) sudah jatuh tertimpa tangga. Jelas rugi karena operasional tak didukung infrastruktur yang baik," katanya. (art)
 



No comments:

Post a Comment