Thursday, July 24, 2014



Press Release Buka Bersama Senin, 21 Juli DPP Organda dengan Rekan-rekan Wartawan :
                    I.                  DPP Organda mencanangkan Zero Accident untuk Angkutan Kendaraan Umum Tahun 2014
1.       Accident yang dimaksud adalah kecelakaan yang memiliki fatalitas tinggi sehingga jumlah korban banyak
2.       Data yang dilansir oleh Kepolisian Republik Indonesia, pada tahun 2013 terdapat 3.279 kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 719 orang, luka berat 1.184 orang, dan luka ringan 4.326 orang.
3.       Jika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya, angka ini relatif berkurang. Pada tahun 2012 ada 5.066 kecelakaan, dengan korban meninggal dunia mencapai 866 orang, luka berat 1.438 orang, dan 4.913 orang yang mengalami luka ringan.
4.       Jika kita membedah angka kecelakaan lalu lintas di atas, maka terlihat bahwa sekitar 71% kecelakaan terjadi pada angkutan pribadi beroda dua.
5.       Penyebabnya bermacam-macam. Dari daya angkut yang berlebihan hingga lelahnya pengendara karena jauhnya jarak yang ditempuh. Melihat angka kematian yang sedemikian besar, sudah seharusnyalah dicanangkan zero accident.
6.       Upaya yang dilakukan :
A.      Kendaraan  :           Teknis
                                 Non Teknis
1.       Instruksi kepada semua DPD dan Operator untuk siapkan kendaraan yang layak kendaraan
2.       Kendaraan Zombi / kendaraan yang tidak pernah beroperasi, dilarang untuk beroperasi
3.       Uji kelayakan kendaraan
4.       Surat-surat kendaraan, SIM, Asuransi dalam kondisi yang masih berlaku
5.       SIM sesuai dengan kendaraan yang dikemudikan
6.       Angkutan Lebaran dalam kodisi normal tidak boleh melewati jalur alternatif dan harus melewati jalur utama
B.      SDM
1.       Pengemudi Angkutan lebaran berpengalaman untuk lintasan yang akan dilalui
2.       Pengemudi melakukan uji kesehatan dengan bekerjasama Kementerian Kesehatan

                  II.                   Survey Badan Penelitian dan Pengembangan – Kemenhub :
             Potensi Demand Angkutan Lebaran Tahun 2014
1.    Angkutan Lebaran dengan bus masih diminati masyarakat karena fleksibiltas yang tinggi bila dibandingkan dengan angkutan lebaran non bus
2.    Dari segi tarif, masyarakat memiliki banyak pilihan tergantung kebutuhan masyarakat
3.    Berdasarkan Survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, memperkirakan jumlah pemudik meningkat 6,99% dibanding tahun lalu dengan peningkatan tertinggi dari Jabodetabek 11,36% dan terendah Balikpapan dan Samarinda 2,33%
4.    Menurut hasil survei tersebut sebanyak 27,9 juta penduduk Indonesia akan melakukan mudik lebaran 2014.
5.    Survei diambil sampel pada 12 wilayah, Sumatera Utara, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur
6.    Pemilihan Rute Pemudik Jabodetabek
1.    Melewati Jalur Pantura sebesar 48%,  dengan tujuan Jawa Tengah sebesar 61% dan tujuan Jawa Timur sebesar 39%
2.    Melewati Jalur Selatan sebesar 38%
3.    Melewati Jalur Merak sebesar 10%
4.    Melewati Jalur Bogor & Sukabumi sebesar 4%


7.     Komposisi Pengunaan Moda :
1.    Mobil Pribadi sebsar 23.8%
2.    Bus sebesar 23.7%
3.    Sepeda Motor sebesar 21.5%


8.    Alasan Pemudik menggunakan Bus:
1.    Lebih murah sebesar 31%
2.    Nyaman sebesar 24%
3.    Lebih cepat sebesar 13%
4.    Fleksibel sebesar 12%
5.    Aman sebesar 8%


                      III.              Dampak Terputusnya Jembatan Comal Pemalang Ambles
1.    Jalur Pantura Pekalongan - Pemalang ditutup. Akses jalan dialihkan. Petunjuk arah yang telah diatur oleh POLRI dan Dishub yaitu Jalur utama Jawa tengah antara Tegal dari Barat dan Pekalongan dari timur, arus dialihkan lewat jalur selatan Kecamatan Bodeh, Polsek Bodeh ambil kanan, sedangkan arus yang dari barat dipecah menjadi dua lewat Banjardawa ikut Kecamatan Taman juga bisa lewat Paduraksa belok kiri ikut Kecamatan Pemalang ataupun juga bisa lewat PT. Gondorukem belok kiri arah timur.
2.    Terjadi peningkatan biaya operasional akibat pengalihan rute Comal yaitu sebesar 10-15%, namun dalam masa mudik ini akibat potensi kemacetan yang parah, peningkatan biaya operasional dapat mencapai sampai dengan 25-30%. 

               IV.                   Harapan DPP Organda
1.    DPP Organda mendesak Kementerian PU agar dapat segera memperbaiki jembatan Comal secara permanen sehingga dapat dilalui oleh Angkutan Barang karena ini juga meningkatkan biaya retribusi
2.    Jumlah harian Angkutan Barang melalui Jalur Pantura rata-rata sekitar 4500-6000 kendaraan/hari
3.    Jumlah harian Angkutan Penumpang melalui Jalur Pantura rata-rata sekitar 900-1100 kendaraan/hari
4.    Biaya ongkos Angkutan barang dalam kondisi normal untuk Jakarta ke Semarang, sekitar 4.5 - 5.5 juta untuk Truk Besar dan 3.5-4.5 Juta untuk Truk Kecil dengan rentang waktu perjalanan sekitar 10 Jam
5.    Dalam kondisi kemacetan parah, maka biaya operasional meningkat antara Rp. 450.000-825.000/ kendaraan umum


SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H
DPP ORGANDA

Wednesday, July 23, 2014



Angkutan Berat Rugi Besar :
Memutar karena jembatan Comal ambles, ongkos angkut naik hingga 75%


VIVAnews - Dampak kerusakan Jembatan Comal, Pemalang, Jawa Tengah, sudah mulai dirasakan para pengusaha angkutan, baik angkutan penumpang maupun barang. Setelah dialihkannya ke jalur selatan membuat para sopir harus merogoh kocek tebal untuk menambah biaya bahan bakar.
Sekretaris Eksekutif Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Tengah, Edi Sugiri, mengatakan, keluhan kerugian para pengusaha angkutan sudah disampaikan kepada pihak Organda. Utamanya kerugian riil yang berdampak pada truk yang membawa barang ke wilayah Semarang.

"Mereka harus menambah ongkos 75 persen lebih mahal dari situasi normal, karena harus memutar lewat jalur selatan," kata Edi di Semarang, Selasa 22 Juli 2014.

Akibat pengalihan jalur itu, kata dia, maka jarak waktu yang ditempuh semakin panjang. Jika dalam kondisi normal Jakarta menuju Semarang hanya 10 jam, kini menjadi 17 jam.

"Mereka rugi bahan bakar. Belum lagi sopir banyak yang mengeluhkan sempitnya jalur yang menyebabkan kemacetan panjang," ujar dia.

Kondisi serupa berlaku bagi angkutan penumpang, yakni angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Para pengusaha terpaksa menelan pil pahit karena tidak ada penambahan biaya tiket penumpang, karena tiket sudah dipesan menghadapi mudik Lebaran.

"Jaraknya semakin jauh, mereka rugi. Sedangkan penumpang tidak mau menambah biaya tiket, meski dengan alasan lebih jauh," katanya.

Ditaksir kerugian mencapai Rp500 juta per hari. Jika dalam sehari ada 500 bus AKAP baik jurusan Semarang menuju Cirebon, Bandung, maupun Jakarta menambah biaya BBM Rp1 juta. "Belum lagi faktor keselamatan di jalur lintas selatan akibat sopir belum paham betul medan yang dilalui," katanya.

Ia berharap Dinas Bina Marga bisa membangun jembatan penyeberangan sementara untuk orang di wilayah Comal. Hal itu untuk mengoper para penumpang dari arah barat yang menuju ke timur.

"Misalnya, penumpang dari Jakarta bisa diturunkan di Comal. Terus dioper oleh bus yang menunggu sisi timur jembatan ke arah tujuan, " kata dia.

Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengaku sependapat kondisi pengusaha angkutan bus paling terpukul akibat terkena dampak secara langsung atas kerusakan jembatan ini.

“Mereka (pengusaha AKAP) sudah jatuh tertimpa tangga. Jelas rugi karena operasional tak didukung infrastruktur yang baik," katanya. (art)
 



Thursday, July 17, 2014

Antisipasi Lebaran, DPP Organda Siapkan 43 Ribu Armada Bus

Ipotnews - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda menyiapkan sejumlah 43 ribu unit armada bus pada musim Lebaran dan liburan sekolah kali ini. Jumlah tersebut meniiingkat dibandingkan tahun lalu yang hanya sejumlah 39 ribu unit bus.

"Karena ini kan angkutan mudik kali ini agak sedikit berbeda. Liburan sama angkutan lebarannya gabung kan, high season nya jadi satu sekaligus," ujar Ketua DPP Organda, Eka Sari Lorena kepada ipotnews di Jakarta, Selasa (15/7).

Selain itu, lanjut Eka, lonjakan penumpang kali ini juga berbeda dengan musim mudik tahun-tahun sebelumnya, dimana kali ini sudah terjadi lonjakan penumpang di awal bulan ramadhan. "Ini sebenarnya keramaian itu kalau orang bilang itu di H-7, tapi kalau kita lihat daari minggu lalu saja sudah mulai ramai," kata dia.

Eka mengatakan, kendatipun saat ini terdapat banyak moda transportasi yang kondisinya juga sudah cukup baik, tapi menurutnya angkutan darat tetap menjadi favorite bagi pemudik. Pasalnya kondisi angkutan darat juga saat ini sudah jauh lebih baik, terlebih faktor kemudahan dalam mengakses tiket dan fleksible terhadap waktu keberangkatan juga menjadi alasan dari pemudik memilih moda transortasi bus.

"Karena satu, kereta api juga lebih terbatas tiketnya karen lebih tertib. Kedua, avtur juga harganya tinggi terus, sehingga tiket pesawat cukup tinggi. Sehingga akhirnya option yang juga tetap ada, saya lihat juga banyak bis baru dan persiapannya tahun ini lebih baik, dan angkutan mudik gratis juga berkurang karena pileg dan pilpres sudah selesai," tuturnya.

Berdasarkan data Balitbang Kementerian Perhubungan diprediksi jumlah pemudik Lebaran 2014 sebanyak 27.894.914 orang. Jumlah peningkatan pemudik dibanding 2013 yaitu 6,99% atau dibulatkan menjadi 7% (2013=25.599.014 pemudik; 2014=27.894.914 pemudik)

Jumlah peningkatan pemudik tertinggi diprediksi berasal dari wilayah Jabodetabek dengan angka 11,36%. Kemudian untuk jumlah peningkatan pemudik terendah terdapat di wilayah Balikpapan-Samarinda yang hanya sebesar 2,33%.

Balitbang Kementerian Perhubungan juga memprediksi pemudik pada Lebaran 2014 dari Jabodetabek akan bertumpuk di jalan raya dengan rincian, Jalur Pantura sebanyak 48% dan jalur Selatan sebanyak 38%. Kemudian untuk tujuan pemudik di jalan raya yaitu Jawa Tengah sebesar 61%, Jawa Timur sebesar 39%, Jawa Barat sebesar 10% dan yang terakhir Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung sebesar 4%.

(Sigit/mk)